[Fighting Uric Acid & Triglyceride] Makin Kuat Berlari :)

Standar

image

Setelah sholat Subuh, saya memulai pagi dengan semangkuk bayam merah, sepotong bit merah, dua buah pisang, dua buah wortel dan satu sloki cuka apel. Semua diblender jadi satu, hingga lembut. Blenderan tersebut menghasilkan dua gelas besar raw juice yang enaaak πŸ™‚

Rutinitas pagi yang berubah total.Β Drastis! Sudah berlangsung tiga belas hari terakhir πŸ™‚

Biasanya saya tiduran kembali. Sejam kemudian mulai menyiapkan sarapan kami berdua. Menu kesukaan kami adalah nasi goreng seafood!
Hiks, padahal konsumsi seafood terlalu sering justru menyebabkan naiknya kadar asam urat!

Olahan nasi putih berminyak Β atau bersantan (nasi goreng dan sejenis) justru juga harus dihindari, karena nasi dan minyak (saturated fat) justru menaikkan trigliserida dan kolesterol!

Bagaimana dengan pola sarapan si Aa?
Saya beruntung, meskipun tidak terlalu suka, Aa berkenan menenggak habis seluruh raw juice yang saya buat 13 hari terakhir ini. I love his attitude in supporting my new life style πŸ™‚

Jam 10 saya baru sarapan. Biasanya semangkuk oatmeal ditemani potongan pisang atau strawberry. Jika bosan, saya memanggang sebuah kentang πŸ™‚

Setelah kenyang dengan sarapan sehat dan berserat tinggi, saya mulai menggerakkan tubuh. Jika Aa masih ada waktu sebelum berangkat mengajar, kami akan main bulutangkis dan bertanding seru πŸ™‚

Jika tidak, saya akan berlari-lari kecil, kemudian mulai meningkatkan kecepatan berlari. Ya…, saya semakin kuat berlari. πŸ™‚

Sebelumnya, saya mudah ngos-ngosan kala berlari, cepat menyerah lalu berhenti. Sekarang berbeda. Instruktur pribadi saya *melirik ke si Aa* sungguh keren. Beliau sabar menemani saya berlari. Bahkan kadang Aa berlari lebih cepat dan lebih jauh dari saya. Sebagai istrinya, saya tentu makin semangat berolahraga πŸ™‚

Jika bosan berlari, saya mengikuti senam aerobik yang ditayangkan setiap pagi di Trans7. Fresh, fun and active! πŸ™‚

Hari-hari saya berubah ke gaya hidup lebih sehat, semenjak saya mengetahui tubuh ini mengandung kadar asam urat (uric acid) dan trigliserida teramat tinggi, yang menyebabkan saya merasa tidak fit dan mudah sakit.

Sepanjang tahun 2012, saya sudah dua kali masuk rumah sakit aka. diopname. Sungguh bukan sebuah ‘prestasi’ yang patut dibanggakan! Di awal Mei, saya harus dioperasi karena ‘mengandung’ batu ginjal 😦 Lalu, tanggal 16 September lalu, saya harus diopname kembali karena dehidrasi. Di hari terakhir opname, saya memaksa untuk diperiksa lengkap, akhirnya ketahuanlah penyebab rasa sakit berkepanjangan di punggung, bahu dan leher saya; kadar asam urat dan trigliserida saya terlalu tinggi!

Waaah, pola makan saya harus dirombak total nih!

***

Sebelum mengenal konsep ‘raw food’ dan ‘raw juice’, sehabis sholat Subuh saya biasanya kembali tidur, karena saya masih ‘merasa’ mengantuk! Tidur sepanjang malam seperti tidak pernah cukup. Hal paling menyedihkan lainnya adalah, punggung, bahu dan terutama leher terasa sangat sakit, kaku dan tidak bisa digerakkan. Seperti ditindih sesuatu, belasan kilo beratnya 😦

Saya tentu saja ‘belanja’ informasi ke beberapa kenalan yang berprofesi sebagai dokter atau farmacian. Pada mereka saya bertanya, “Bisakah trigliserida dan asam urat sangat tinggi ini diobati tanpa obat sintetik?”

Jujur, saya keberatan tubuh ini dihujani obat-obat kimiawi! Dua kali diopname berturut-turut dalam satu tahun terakhir, lalu dibom obat-obatan saat dirawat, rasanya sudah lebih dari cukup! Betapa banyak ‘racun’ sintetis yang begitu massive dimasukkan dalam tubuh saya. 😦

Kebanyakan rekan dokter dan apoteker menyarankan saya untuk mengonsumsi obat penurun trigliserida. Menurut mereka, trigliserida sangat tinggi yang saya idap (di atas 1674 mg/dL) terlalu bahaya jika tidak segera diobati. TG’s saya harus segera diturunkan dengan obat sintetik penurun trigliserida.

Entah kenapa, saya ‘keukeuh’ tidak menerima saran mereka. Dengan sopan saya dengarkan saran-saran mereka, saya ucapkan terima kasih, lalu diam-diam saya buang resep yang diberikan πŸ™‚

Saya lelah menelan obat-obat kimiawi.
Saya ingin yang lebih alami.
Lebih natural.
Lebih memanfaatkan kekayaan alam yang melimpah di sekitar.

Apa yang bisa saya lakukan?

Saya mulai browsing jurnal-jurnal ilmiah dalam bahasa Inggris. Saya juga dikontak salah satu blogger di Amerika. Beliau mengalami kasus yang sama. Menurut beliau, ‘metabolic syndrome’ yang mencuat setelah kita berusia di atas kepala tiga, bisa dilawan dengan diet ketat.

***

Saya Mulai Diet

Bismillah…
Setelah mengumpulkan beberapa informasi yang relevan dengan kasus saya, belajar banyak dengan Kak H di Amerika dan belanja ilmu di internet, saya putuskan mengombinasikan 3 hal di bawah ini:

~ Diet trigliserida dan asam urat (termasuk mempraktikkanΒ raw juice)
~ Olahraga minimal 30 menit / hari
~ Bekam teratur (2 minggu sekali)

Gaya asupan dan pilihan perawatan di atas telah saya jalani 13 hari terakhir ini. Alhamdulilah mulai terlihat membuahkan hasil πŸ™‚

Biasanya saya selalu mengantuk sepanjang pagi, lalu jatuh tertidur nyaris dua jam di pagi hari. Sekarang, sehabis Subuh saya langsung sibuk menyiapkan raw juice, memblender aneka buah dan sayuran non glikemik.

Biasanya saya makan nasi putih sepiring penuh, 3 kali sehari. Sekarang saya bisa merasa kenyang meski tanpa nasi putih. Kebutuhan karbohidrat saya ganti dengan nasi merah 3-5 suap, semangkuk oatmeal atau sebuah kentang. Ini prestasi besar untuk orang Kalimantan (doyan nasi) seperti saya, hehe πŸ™‚

Biasanya saya hanya sesekali makan buah. Sekarang, setiap kali merasa lapar, saya langsung ‘ngemil’ buah-buahan segar. Saya sudah tidak tertarik lagi membuat ‘bala-bala’ ataupun tempe mendoan. Sepotong besar buah segar jauh lebih menarik dari ‘gorengan’ berlumuran minyak. πŸ™‚

Biasanya tubuh terasa berat untuk diajak bergerak. Apalagi bahu, punggung dan leher nyeri bukan main. Rasanya paling nikmat rebahan di atas kasur. Sekarang, saya justru merasa segar dan bisa beraktifitas normal kembali.

Hmm…, saya tidak ingin menukar gaya hidup sehat seperti ini dengan apapun, termasuk kesibukan bekerja ke luar daerah yang ‘merusakkan’ disiplin diet saya.

Lalu, tanggal 9 Oktober lalu, saya putuskan untuk cek darah kembali. Sungguh, deg-degan! Mudahan perubahan gaya hidup saya berhasil menurunkan kadar trigliserida sangat tinggi itu.

Alhamdulilah, kadar trigliserida setinggi 1674 mg/dL turun separuh, ke angka 800-an. Legaaa…!

Senyum lebar semakin terkembang di wajah kala saya menimbang tubuh, berat saya turun 3 kilo! Sebelumnya 61 kg, sekarang 58 kg.

Waaah…
Saya merasa optimis dengan raw juice dan diet trigliserida yang saya jalani saat ini πŸ™‚

Saya sekarang bertekad ingin terus menjaga pola asupan dan olahraga, hingga BB saya turun ke angka 47 kg.

Mampukah saya?
Nanti saya update lagi ya πŸ™‚

Mudahan, saat menulis di sini lagi, saya sudah meng-updatenya dengan kadar trigliserida (sekaligus asam urat) yang mendekati angka normal dan BB yang semakin mendekati angka ideal. Amiiin…

*Cross our fingers!*

Muslimah Backpacker on Ramadhan Charity

Standar
Alhamdulillah, kembali ke tanah air, saya langsung dikepung kardus dimana-mana, hingga lahir jurnal ‘puyeng’ beberapa hari lalu. Saya ngotot sekali ingin memosting kabar terkini, meski alakadarnya karena lewat hape, hehehe…

Meski spanneng karena urusan pindahan ini, saya teringat janji diri untuk mengadakan acara berbagi, yang tahun kemarin tidak sempat saya adakan karena masih sibuk menata rumah tangga (uhuk, sampai sekarang masih merasa jadi pengantin baru, hehehe).

Di antara centang-perenang kondisi rumah yang membuat sakit mata dan kepala, Alhamdulillah salah satu anggota Muslimah Backpacker yang juga MPer, berkenan membantu meng-update rencana baksos di Pesantren Tahfidz Qur’an di Cibiuk, Garut.

Dan tadi, saya baru saja menyelesaikan rekap uang sumbangan yang mulai masuk ke rekening saya sejak kemarin.

Sejauh ini, Alhamdulillah dana yang masuk sudah 2.75 juta, sedang kami membutuhkan dana sekitar 5 jutaan, agar 50 anak penghafal Qur’an ini bisa disantuni semua πŸ™‚

Izinkan saya mengajak keluarga besar MPers di sini untuk turut menyalurkan sebagian rizki ke acara ini. Apapun nama komunitasnya, yang terpenting sampai kepada yang berhak, bukan? πŸ™‚

Untuk sumbangan di luar uang pendidikan, sejauh ini, Yayasan Lingkar Pena milik Mbak Helvy dan Mbak Reny Yaniar (penulis buku anak senior) berkenan membantu, dengan menyumbangkan masing-masing 50 buku bacaan untuk para santri anak-anak tersebut.

Jika teman-teman ingin bergabung membantu menambahi nominal uang sumbangan pendidikan, kami tunggu dengan senang hati πŸ™‚

***

REKAP DATA dan INFO ‘Muslimah Backpacker on Ramadhan Charity’


Insya Allah Baksos perdana MB-ers akan dilaksanakan pada tanggal 4 – 5 Agustus 2012 di salah satu kaki gunung di Garut. Jalan-jalan sembari beramal. πŸ™‚


Dana dan bantuan akan langsung disalurkan oleh saya, Mbak Syifa, Cut Inong dan Mbak Uni Yasmine (yang sudah positif ingin bergabung ke lokasi). Masih ada satu seat tersisa jika ada yang ingin bergabung. Oh iya, kami menyewa mobil, dan uang sewa berikut bensin dll TIDAK DIAMBIL dari uang sumbangan, melainkan seluruh peserta trip patungan!

Itinerary (sementara) sebagai berikut:

– Pukul 2 siang, mobil carteran (disewa patungan oleh peserta trip baksos) menjemput teman-teman di Pasar Festival, Jakarta.

– Langsung meluncur ke Garut. Di perjalanan, kita akan berbuka bersama di salah satu rumah makan sederhana πŸ™‚

– Tiba di Garut, langsung ikut tarawih jika masih sempat. Jika tidak, langsung meletakkan barang-barang di kamar hostel (Rencana akan menginap di hostel seharga 150 ribu / malam, lagi-lagi patungan sesama peserta baksos ya).

– Selepas beristirahat, bagi yang berminat, mari berenang di salah satu kolam air hangat belerang di kaki gunung Guntur.

– Pukul 10 malam istirahat, lalu sahur di salah satu warung makan sederhana di Garut.

– Keesokan hari, pukul 8 pagi, langsung meluncur ke pesantren Tahfidz al-Qur’an pimpinan ustadz Aziz, Lc.

– Setelah ramah tamah dan penyerahan sumbangan, anggota Muslimah Backpacker bergerak menuju Jakarta kembali.

Nah…, untuk teman-teman yang ingin berpartisipasi namun tidak bisa bergabung mengikuti penyerahan uang sumbangan ke Garut, teman-teman masih bisa terlibat aktif dengan memberikan bantuan berupa infaq, / zakat / sedekah dengan nominal bebas, sesuai kemampuan teman-teman semua ke rekening berikut ini:

Fatimah Chairi


031-000-545-787-7


Mandiri Cab. Lambung Mangkurat Banjarmasin


Tempat pelaksanaan baksos insyaAllah di Pesantren Tahfidz di Garut yang saat ini sangat membutuhkan bantuan untuk anak didik mereka.

Kebanyakan dari adik-adik penghafal al-Qur’an berasal dari keluarga miskin. Beberapa bahkan anak yatim atau piatu. Sungguh, adalah sebuah kebahagiaan bagi mereka jika kita bisa berkunjung, menyapa, mendengarkan satu dua ayat hafalan mereka, sekaligus berbagi sedikit yang kita punyai πŸ™‚

Berhubung sekarang adalah tahun ajaran baru, maka para admin berencana untuk memberikan bantuan berupa buku-buku, alat tulis, tas sekolah dan uang pendidikan untuk masing-masing anak (dengan total nominal per anak kurang lebih Rp. 100.000,-)

Sebagai informasi, rencananya kita akan membantu 30 hingga 50 santri. Sebetulnya ada 50 santri anak-anak, akan tetapi semua ini sangat bergantung pada nominal bantuan teman-teman semua. Makin banyak yang ikut berbagi, akan makin banyak anak yang bisa kita santuni πŸ™‚

Pesantren Tahfidz al-Qur’an ini didirikan oleh Ustad Aziz Lc, salah seorang alumni Madinah University.

Ditunggu partisipasinya ya, sekecil apapun, berarti untuk adik-adik penghafal al-Qur’an ini πŸ™‚

Yuuuk, fastabiqul khairaat, berlomba-lomba dalam kebajikan!

***

UPDATE UANG SUMBANGAN:

1. 300.000,- dari Elfyt R

2. 500.000,- dari Ftm Ch

3. 200.000,- dari Un Ysmn

4. 200.000,- dari Ftm Zry

5. 200.000,- dari Syf Qrt Ayn

6. 100.000,- dari Ttna Adnd

7. 150.000,- dari Bddr Hj Brsnr

8. 300.000,- dari Irwt Prl

9. 300.000,- dari Ahmd Fjr Sptn

10. 400.000,- dari Hdyt Zlf

11. 100.000,- dari Ct Ing

12. 100.000,- dari An Adm

13. 150.000,- dari Oc Aa

14. 250.000,- dari Ls Nzfh

15. 1.500.000,- dari Vn Istn Rt


16. 350.000,- dari IIDN (Ibu-Ibu Doyan Nulis), komunitasnya Neng Lygia πŸ™‚

Alhamdulillah, sejauh ini sudah terkumpul dana sebesar Rp. 5. 100.000,-.


Dari pihak pesantren, mereka mengabarkan memiliki sekitar 50 santri anak-anak penghafal al-Qur’an yang patut mendapatkan infak / zakat / sedekah dari kita.


Maka, jika kita minimal bisa mengumpulkan sumbangan sebesar 5 juta, insyaAllah kita bisa menyantuni seluruh anak (masing-masing 100 ribu), tanpa ada satu pun yang merasa iri πŸ™‚


***


UPDATE: ALHAMDULILLAH, setelah 3 hari penggalangan dana berjalan, akhirnya angka 5 juta bisa dicapai!


Subhanallah, apa sih yang tidak mungkin bagi-Nya? πŸ™‚


***


PS. Bagi yang tidak berkenan membaca postingan ini, silahkan di-skip saja πŸ™‚



[Komunitas] Siapa Senang Memasak? :-)

Standar
Beberapa waktu lalu, saya dihubungi oleh ‘marcomm‘ Tabloid Nova versi online.

Intinya, beliau mengajak saya untuk bekerjasama dalam membesarkan komunitas sekaligus melakukan berbagai kegiatan positif dengan mereka.

Tawaran yang menarik, bukan? πŸ™‚

Sebagai pendiri komunitas ‘Muslimah Backpacker’ di ruang facebook dan di http://www.muslimahbackpacker.com., saya memutuskan untuk menerima tawaran penuh persahabatan ini.
Berhubung saya sendiri belum memiliki waktu yang ‘lega’ untuk mengusulkan agenda kegiatan, maka tahap awal ini saya menerima dulu usulan agenda dari mereka.
Agenda pertama yang ditawarkan mereka adalah, “NOVA INSPIRING DAY”.
Salah satu kegiatannya adalah, “Demo Memasak Bersama Super Chef”, di antaranya adalah belajar bersama Ibu Sisca Soewitomo dan beberapa master chef tampan lainnya. πŸ™‚

NOVA INSPIRING DAY

KAMIS, 12 Juli 2012

SUPER CHEF

GEDUNG GRAHA JALA PUSPITA

Jl. Gatot Subroto, Kav. 101 Jakarta Pusat

Tlp. (021) 5330150 ext. 32222-3
Berhubung acara ‘SUPER CHEF‘ ini diselenggarakan di Jakarta dan saya tidak bisa menghadiri acara tersebut, maka agenda ini saya tawarkan pada teman-teman ‘Muslimah Backpacker’ dan juga para MPers yang berdomisili di Jakarta,

Silahkan acungkan jari dan reply di sini, jika berminat untuk menghadiri acara seru satu ini πŸ™‚

Khusus perempuan dan GRATIS! πŸ˜€

***

Update peserta:

1. Mbak Ira, prajuritkecil

2. Musimbunga, tentatif

3. Mbak Nining, ningnong

4. Mbak Rani Uswah, raniuswah

5. …

[Dunia Petualang] Penulis TraveLove Menuju Kawah Putih :)

Standar

Pagi tadi, Lalu Abdul Fatah berpamitan pada saya, dia berencana ‘backpack’ seorang diri ke Kawah Putih.

Dia sempat bertanya, “Mbak Ima, enaknya aku mbambung ke mana ya?”

“Kamu sudah pernah ke Kawah Putih, belum? Eh, kamu sukanya apa?”

“Belum pernah ke sana, Mbak.”

“Err, tertarik gak ke Saung Angklung Mang Udjo?”

“Aku lebih suka mendatangi obyek wisata dalam bentuk keindahan alam, Mbak.”

“Hmmm, kamu sudah pernah ke Garut dengan Desi ya, gimana kalau kali ini ke Kawah Putih saja. Pemandangan alamnya indah. Apalagi sekarang sudah musim kemarau. Danaunya akan berwarna-warni kala disorot matahari. Cantik deh!”

“Boleh deh, Mbak. Aku jalan sendiri juga gak papa.”

Sebetulnya, ini adalah kedatangan Fatah yang kedua kalinya. Kalau tidak salah, mereka pernah mengunjungi kami di ujung 2011. Waktu itu, Fatah dan Desi juga tidak saya temani, karena saya sedang kurang sehat. Kali ini Fatah mengunjungi saya seorang diri. Kami merasa terhormat mendapatkan kunjungan untuk kedua kalinya, tapi kok ya ndilalahi saya sedang sakit lagi… πŸ™‚

Terbit juga rasa kurang enak, jika kedatangannya kali ini, Fatah ‘dibiarkan’ jalan-jalan sendirian lagi. Namun apa daya, kelopak mata kiri saya masih bengkak.

Salah seorang sahabat yang pernah mengalami situasi serupa bilang, “Ima, jangan kena air dan udara luar dulu. Istirahat saja sembari diobati.”

Kali ini saya putuskan untuk menuruti sarannya, karena si kelopak belum kunjung mengempis dan memang saya beserta Aa berencana ke dokter spesialis mata hari ini juga.

Ada banyak hal yang saya senangi dari sosok Fatah, salah satunya adalah karakter pembelajar mandiri yang ia miliki. πŸ™‚

Oh ya, tadi malam, Fatah baru saja launching dan bedah buku, ‘TRAVELOVE‘ yang ia tulis keroyokan dengan Miss Trinity Traveler, Andrei Budiman, Salman Faridi, Sari Musdar, dkk., di Gramedia BIP.

Sementara penulis lain kembali ke Jakarta, Fatah memutuskan untuk menginap dua malam di rumah saya. Ia bersiap jelajah Bandung lagi πŸ™‚ Mmm, Bandung sepertinya memang selalu ngangenin bagi setiap pelancong ya? ;p

Setelah sarapan dengan menu olahan tanganku sendiri, adinda Fatah bersiap ‘backpack‘ seorang diri, memanggul ransel berisi kamera dan sekotak menu makan siang sederhana dari saya. Ia akan menuju Ciwidey, dengan tujuan Kawah Putih.

Gak papa, ya Dek? Tidak apa-apa tidak kutemani.

Ah, biarlah, insyaAllah ia makin jago backpack!

Lagian, kelopak mata kiri saya harus disembuhkan dulu, biar lebih asik untuk menulis, membaca dan melihat keindahan alamNya πŸ™‚

Dengan dipandu rute angkot yang dismskan Aa, Fatah mantap menguluk salam, lalu berpamitan.

Inilah rute Fatah menuju Kawah Putih,

– Dari rumah kami, Fatah harus naik angkot hijau GBA-Buah Batu (warna hijau), turun di Pasar Kordon, cukup 2000 perak saja.

– Dari pasar Kordon naik angkot ke arah Carrefour, angkot no 09, cukup 2000 perak juga. Turun di Carrefour.

– Dari Carrefour, di sisi sebelah kiri -jangan menyeberang- Fatah harus naik angkot 05 (warna merah) ke arah Leuwi Panjang. Jalan kaki menuju terminal Leuwi Panjang (jika angkot tidak masuk ke dalam).

– Nah, dari terminal Leuwi Panjang ini, Dik Fatah cukup naik mobil colt jurusan Ciwidey, bayar sekitar 6 ribu perak saja. Naik mobil ini hingga sampai terminal Ciwidey.

– Dari terminal Ciwidey, naik angkot berwarna kuning, ongkos sekitar 4 ribu saja. Nanti minta turun di depan gerbang Kawah Putih.

– Dari gerbang Kawah Putih, jika tidak berminat untuk hiking, silahkan naik mobil terbuka yang dikelola pihak Kawah Putih, kalau tidak salah biaya pulang pergi sebesar 10 ribu. Plus tiket masuk Kawah Putih sebesar 15 ribu.

Sudah deh, Fatah akan siap menikmati keindahan ‘Kawah Putih’!

“Bukankah nikmatnya sesuatu itu akan kita dapat setelah berlelah-lelah?”

Happy Backpack, adinda Fatah πŸ˜€

[Dunia Petualang] Siapa Penulis Sekaligus Petualang Idolamu?

Standar
Jika tanggal 27 Mei lampau saya menulis tentang kedatangan saya yang pertama kali ke Sumatera Utara, maka ini adalah catatan ‘cepat’ yang saya tulis sekitar lima belas menitan, pada tanggal 29 Juni kemarin. Lagi-lagi saya tulis di note facebook saya πŸ™‚

Tulisan ini terlahir spontan, kala mengingat kembali kebersamaan saya dengan Mas Gol A Gong saat kami sama-sama diundang ke Rantau Prapat πŸ™‚

Kunjungan ke Rantau Prapat yang kedua ini, meninggalkan jejak mendalam di benak saya.
Ini sedikit catatan jejak-jejak tersebut πŸ™‚
***


Assalaamu’alaikum Sahabat Petualang πŸ™‚

Apa kabar?

Mudahan Sahabat Petualang sudah memutuskan angkat ransel ke suatu tempat di musim liburan kali ini dan siap mengabadikannya lewat tulisan, sepulang dari perjalanan nanti. πŸ™‚


Saya sendiri saat ini sedang berada di sebuah kota yang terletak di Indonesia Barat paling ujung. Bukan Aceh bukan Medan, lebih tepatnya sebuah kota yang dikenal dengan sebutan, ‘Kota Dollar’. Sambil menulis catatan ini, saya mencoba mengingat-ngingat, kapan terakhir saya menulis di note FB saya? Olala! Terakhir saya menulis di note ternyata tanggal 27 Mei lampau. Sudah sebulan berlalu!


Tak pernah terbayangkan sebelumnya, jika akhirnya saya menulis note lagi di kota dan kamar yang sama dengan sebulan lampau, yaitu ruang tidur untuk tamu yang disediakan di rumah dinas wakil bupati Rantau Prapat. What a coincidence!

Sejak sapa dan diskusi di balik layar digulirkan, jemari ini sudah sangat ingin bercerita, bahwa saya akan diundang untuk kembali ke kota ini. Diundang adalah hal yang biasa dan sejatinya justru ‘wajib’ bagi setiap penulis, karena ini adalah ujian sekaligus barometer keilmuan untuk mengukur seberapa jauh ia sanggup membagi apa yang ia punya, namun kisah yang meletup ingin saya bagi adalah fakta yang melambungkan hati saya, saya diundang ke Rantau Prapat bersama sesosok yang saya kagumi sepak terjang tulisan sekaligus perbuatannya.

Siapa dia?

Tunggu dulu ya πŸ™‚

Di sisi lain, keinginan untuk segera berkisah di awal kedatangan saya ke kota ini (red. tanggal 26 Juni lalu) terhalang sinyal internet yang timbul tenggelam di kota Rantau Prapat nan panas ini. Untung saja Mas ‘wabup’ berbaik hati menginapkan kami di Nuansa Resort Hotel yang ber-AC, bersih dan adem karena dikelilingi kelapa sawit.

Ngomong-ngomong soal kelapa sawit yang tumbuh subur di bumi Rantau Prapat, saya mendadak resah… Ternyata pohon ini -dalam jangka panjang- merusak air dalam tanah, menggoncang ekosistem, hingga mengancam stabilitas lingkungan hidup karena akarnya menyerap air begitu banyak, lalu bahkan merusak tanah! Hmmm… Saya galau seketika. Prihatin menyeruak menggulana!

Oh ya, tulisan ini saya buat sebagai pembunuh waktu, karena pukul 12 dinihari nanti, insyaAllah saya akan bertolak ke Medan dengan kereta Sribilah malam. Akan tiba di Medan pukul 4.25 dinihari, lalu saya berencana -cukup nekad- untuk langsung ke bandara Polonia Medan, karena Airasia akan membawa saya terbang pada pukul 8.25 pagi. Kembali ke Bandung. Kembali ke sisi suami tercinta. πŸ™‚

InsyaAllah motor Honda Beat beliau siap menjemput, ngeeeeeengggggggg, membelah sejuknya Bandung di pagi hari! πŸ™‚

Of course I miss him too!


***

Di sisi lain, perjalanan ke SUMUT kali ini adalah ‘petualangan’ yang sangat mengayakan fikir sekaligus zikir, memperbaharui energi menulis, sekaligus membangkar semangat berbagi saya yang belakangan timbul-tenggelam.

Siapa sangka, setelah belasan tahun lalu saya adalah pembaca cilik sekaligus peniru’rebel’nya sosok Roy dalam serial “BALADA SI ROY”, kemudian buku itu sangat
menginspirasi saya untuk banyak berjalan di muka bumiNya yang luas ini, maka seja
k tanggal 26 Juni hingga 28 Juni dinihari kemarin, saya nyaris 24 jam X 3 hari bersama seorang Gol A Gong!


Seperti mimpi!

Nah, sudah saya sebut namanya kan πŸ™‚

Beliau adalah salah satu sosok penulis Indonesia paling inspiratif di mata saya. Selain kenyataan bahwa beliau adalah salah seorang backpacker Indonesia sekaligus travel writer senior yang tulisan-tulisannya cukup memengaruhi saya πŸ™‚

Sekali lagi, ini adalah anugerah ‘kesempatan belajar’ yang luar biasa untuk saya!

Dalam kebersamaan dengan beliau, saya kerap tersedak! Dalam waktu yang boleh dibilang tidak banyak akan tetapi ‘banyak’ ilmu yang dipertontonkan, saya berupaya mereguk dan belajar banyak hal dari beliau secara simultan. Saya upayakan untuk merekam seluruh kebaikan yang terucap dan dilakukan beliau dengan telinga, mata, hati bahkan catatan kecil di hape saya πŸ™‚

Dua kata yang bisa saya ucap tentang beliau, Gola A Gong adalah sosok LUAR BIASA! Ya, saya berani menyatakan, beliau luar biasa di mata saya!


Penilaian luar biasa ini tidak muncul dari pertemuan yang hanya sekadar 2-3 jam, pernyataan ini terbit setelah saya bersama beliau sekitar 3 hari 3 malam!

Dengan durasi selama itu, saya InsyaAllah memiliki waktu cukup leluasa menyaksikan berbagai sisi manusiawi seorang penulis senior yang sudah menerbitkan lebih dari 100 buku ini.

Saya sungguh ‘speechless‘ dan kehilangan kata, ketika harus menyebut satu buah kata sifat paling utama yang bisa mewakili pribadi seorang Gola Gong. Di mata saya, tiga pasang kata ini yang sering mencuat di benak kala dikaitkan dengan beliau, “Rendah hati, pekerja keras dan pembelajar mandiri!”

Dengan beliau pula, Allah memberi ruang pada saya untuk bahu-membahu menebar virus yang digagas Mas Gong, yaitu virus berbahaya bernama, “GEMPA LITERASI” di bumi Rantau Prapat πŸ™‚

Sungguh, saya belajar banyaaak sekali dari Mas Gong.

In my humble opinion, he is trully an inspiring person!

Saya diliputi haru dan syukur, setelah ‘menunggu’ belasan tahun lamanya, saya akhirnya tidak ‘sekedar’ berjumpa, namun sekaligus belajar dan menyerap langsung begitu banyak energi kebaikan dari beliau πŸ™‚

Pertemuan dengan beliau meledakkan ide di batok kepala!

Ada banyak ide yang kemudian menari-nari, ide menulis untuk diri saya pribadi, ide untuk melanjutkan naskah-naskah yang sempat terbengkalai karena saya dioperasi dan menjalani recovery, ide segar untuk kemajuan grup Muslimah Backpacker (www.muslimahbackpacker.com), dan seterusnya. Mudahan banyak yang bersedia membantu berjalan bersama saya, untuk memajukan komunitas Muslimah Backpacker ini πŸ™‚

Yang jelas, saya bersyukur bisa berjejaring dengan orang-orang hebat. Saya semakin meyakini hipotesa ini; energi baik selalu disambut energi baik lainnya, insyaAllah πŸ™‚

Ini sedikit catatan saya, sebelum ditelan lupa. Mudahan saya bisa menyambung tulisan ini, setiba di Bandung nanti!

***

Ayo share di sini, siapa sosok petualang (sekaligus penulis) yang menginspirasi dirimu? πŸ˜‰



Saya dan Mas Gol A Gong, kala kami keluar dari perut Garuda,

saat mendarat di bumi Medan, sekitar pukul 8 pagi, 26 Juni 2012


[Honeymoon Backpacker] Dari Bandung ke Rantau Prapat, Jejaring Silaturahmi!

Standar
Sahabat, akhir-akhir ini saya kerap memosting tulisan di Facebook, karena di Rantau Prapat facebook lebih mudah dibuka.
Daripada semangat menulis keburu menguap, saya putuskan menulis di note facebook saya.
Tulisan di bawah ini saya buat pada tanggal 27 Mei 2012. Rasanya sayang juga jika tidak diabadikan di sini πŸ™‚
***

Salam dari Rantau Prapat yang nyaman! πŸ™‚

Alhamdulillah, pagi tadi, sekitar pukul 9:20 pagi, kami berdua mendarat dengan selamat di bandara Polonia Medan. Tak pernah terbayangkan sama sekali, kami berdua bisa menjejakkan kaki hingga ke ujung Sumatera, tepatnya di jantung ibukota Sumut.

Meski belum sampai 24 jam di kota ini, kami sudah diajak kerabat mengunjungi klasik dan megahnya warisan masa lampau yaitu Istana Maimun, melihat seputaran Merdeka Walk, menikmati wisata kuliner khas Medan dan yang terpenting; bisa bersilaturahmi dengan kerabat (keponakan Nini di Banjar) yang sudah menjadi ‘orang’ sekaligus kopdar dengan salah satu Multiply-er Medan, Mbak Eka Natassa Sumantri. Senaaang banget rasanya, bisa memanjangkan silaturahmi sejauh ini πŸ™‚

Alhamdulillah!

Jujur, Medan bukanlah salah satu dream destinations yang sangat ingin kami kunjungi dalam waktu dekat. Namun, jika sudah ada takdir dan rizki menuju kota ini, kami berdua tak kuasa menolak datangnya kesempatan ini. Apalagi seluruh biaya perjalanan ditanggung oleh sesosok dermawan nan sholeh. Subhanallah, luar biasa jika Allah sudah menginginkan seorang hambaNya berjalan! πŸ™‚

Saat saya mengetik note ini, saya teringat kembali pada sebuah hadis, isi redaksinya kurang lebih seperti ini,”Barang siapa memanjangkan dan menjaga silaturahmi, niscaya akan Kami bukakan (dan luaskan) rizki untuknya.”

Saya selalu percaya, rizki tidak melulu terkait dengan nominal kapital. Rizki bisa berupa apa saja, termasuk nikmat sehat, nikmat terbukanya berbagai peluang untuk mengembangkan diri, hingga nikmat berbagi sedikit yang saya punya ke berbagai tempat, hingga nikmat berjalan ke tempat terjauh dan tak terduga sekalipun!

Subhanallah, sejak kemarin malam, saya dan Aa membuktikan kebenaran hadis di atas.

Izinkan saya sedikit bercerita alasan dibalik layar penyebutan hadis di atas πŸ™‚

Kurang dari seminggu lalu saya kembali dari perjalanan ke Banjarmasin -dalam rangka menghadiri walimahan adik saya yang ketiga- dan Alhamdulillah saya ‘sempatkan’ diri istirahat beberapa jenak -mengingat kondisi fisik yang masih dalam masa recovery, hingga kemudian saya diingatkan kembali pada sebuah janji, ‘bersedia berbagi kekuatan mimpi’ di Rantau Prapat, insyaAllah besok pagi di Asrama Haji Rantau Prapat.

Yuuuk merapat!!! πŸ™‚

Kehadiran saya dan Aa di kota ini, sungguh bermula dari sepotong obrolan di Saung Angklung Mang Udjo, mengerucut hingga kemudian Mas H mengusulkan agar saya datang ke kota ini. Saat ini Rantau Prapat sedang beliau pimpin bersama Bapak bupati H. Tigor, SpD.

Saya menyambut usulan beliau dengan sepotong doa, ‘InsyaAllah, Mas.’

Sekitar sepekan lalu, Mas H mengingatkan saya pada secuil janji dan hari ini saya dan suami mulai berjalan, untuk menepati janji kami. πŸ™‚

Jika tadi malam kami mesti merubah rute dan moda transportasi berkali-kali -yang semula hendak meluncur ke Jakarta dahulu untuk mengambil sekardus buku, baru kemudian ke bandara- malam ini saya dan Aa Alhamdulillah sedang menikmati istirahat kami di Rantau Prapat -setelah menikmati perjalanan dari Medan dengan berkereta api selama 6 jam lamanya- di rumah dinas wakil bupati nan bersahaja.

Saya tersedot energi positif Mas H sekeluarga.

Sungguh, beliau adalah sosok pemimpin idaman yang dibutuhkan negeri ini!

Mudahan saya bisa menulis tentang sosok inspiratif ini secara khusus nantinya πŸ™‚

Oh iya, perjalanan kami mengalir sangat lancar, dibaluri doa dan dukungan banyak pihak dengan rute panjang mulai Bandung -> Soeta Airport -> Polonia Airport -> Rantau Prapat ini tidak akan pernah terwujud tanpa kekuatan jaring-jaring silaturahmi.

Sejak kemarin, kami banyak dibantu oleh Kak Wiwi yang berkenan mengambilkan puluhan buku saya di Mizan showroom dan hebatnya lagi beliau bersedia mengantarkan buku-buku tersebut ke bandara Soeta Subuh tadi, disebabkan ketidakmampuan kami mengambil buku-buku tersebut di Jakarta Selatan tadi malam, karena sempitnya waktu dan banyaknya urusan yang harus kami selesaikan sebelum bertolak ke Sumut.

Saya dibadai haru.

Kak Wiwi adalah sosok perempuan sholehah yang tulus membantu.

Luar biasa, buku-buku yang saya angkut hingga Rantau Prapat ini tidak akan pernah bisa saya bawa jika tanpa bantuan teman-teman penerbit dan Kak Wiwi yang berkenan saya ‘todong’ secara mendadak!

Sungguh, rencana menunaikan janji ini tidak akan terlaksana -di antara hectic-nya keadaan- tanpa kekuatan jaring-jaring silaturahmi!

Subhanallah, Maha Benar JanjiNya!

Terima kasih Kak Wiwi,

terima kasih Mas H sekeluarga,

terima kasih Aa, sudah berkenan menemaniku berjalan sejauh ini…

Allah yang membalas ya πŸ™‚

***

Ada kontak FB di Rantau Prapat sini?

Yuuuk, silaturahmi yuk besok pagi hingga selesai acara, di Asrama Haji Rantau Prapat yaaa.

See you! πŸ™‚


[Honeymoon Diaries at Hospital] Postingan Suami Kala Istri Terkapar :)

Standar
Sepanjang di rumah sakit kemarin, saya belajar mengatur emosi dan hati. Jujur, saya orangnya cukup emosian dan panikan πŸ™‚

Ada banyak hal yang kalau saya perturutkan akan menggiring saya pada keadaan ‘mengasihani diri sendiri’ dan saya tidak mau melakukan itu, karena tentunya akan berpengaruh pada kekuatan fisik saya. Fisik yang sudah lemah saat itu, tidak boleh dibuat semakin lemah oleh aneka situasi eksternal yang ‘buruk’ bukan? πŸ™‚

Semenjak saya memutuskan kabur dari RS al Islam, belanja informasi ke beberapa rumah sakit lalu kembali memutuskan untuk mondok di RS al Islam, saya belajar untuk menerima seluruh keadaan yang terjadi. Kalau menurutkan kata hati, sungguh, begitu banyak hal ingin saya protes! πŸ˜€


Salah satu hiburan terbesar saya adalah keberadaan suami di sisi.

Aa bermurah hati menjaga istrinya 24 jam, meski ada kewajiban harus ke Ma’had al Imarot setiap hari. Aa memutuskan memilih saya, Alhamdulillah. Padahal kebijakan di kampusnya cukup ‘mengerikan’; penilaian kinerja yang dianggap menurun dan pemotongan gaji yang cukup signifikan. Kalau tidak ke kampus satu hari saja, silahkan terima konsekuensi; potong gaji, padahal gaji pun tak seberapa… Aa tetap memilih saya dan memutuskan berserah pada kemurahan Allah untuk biaya pengobatan saya.

Pada situasi tak berdaya seperti tempo hari, saya benar-benar merasakan pentingnya memiliki orang terdekat dalam hidup kita, selain ingatan kita tentang kasih sayang Allah! Entah orang terdekat itu kita sematkan pada ibu kita, ayah kita, suami kita atau anak kita, bahkan mungkin sahabat kita!

Saat saya sakit kemarin, orang terdekat saya ternyata adalah suami saya, mama mertua saya dan sahabat-sahabat MP di sini.

Di rumah maya ini saya bisa terus menceritakan kondisi terakhir saya, kecemasan-kecemasan saya, kesedihan dan kebingungan saya, hampir semua bisa dengan nyaman saya ungkap di sini.

Saat itu saya nyaris tidak peduli apa pendapat orang lain (ataupun MPers lain), barangkali saya dinilai buruk atau dilabeli hal negatif lainnya, namun entah kenapa, jemari ini tetap saja mengalir mengisahkan segala hal yang ingin saya bagi di sini. Saya percaya, hati yang jujur dan tulus akan disambut hati yang bersih dan tulus pula!


Sangat jelas, saya merasa nyaman kalau sudah bercerita di rumah ini, and somehow I feel better after telling my feelings πŸ™‚

***

Ternyata, tidak cuma saya yang butuh berbagi rasa sedih dan sakit, Aa pun melakukan hal yang sama, namun di ruang yang berbeda.

Secara teratur, Aa ternyata menulis status saat saya terkapar pertama kali, menjelang dioperasi hingga setelah dioperasi.
Setelah saya mulai menjalani ‘recovery after surgery’, saya mulai membaca tulisan-tulisan Aa tersebut πŸ™‚
Rasa-rasanya kok sayang ya kalau tidak disimpan di sini πŸ™‚
Izinkan saya memostingnya di sini juga ya:


Facebook, tanggal 28 April, 2012
“Shabah al-khair, lekas sembuh ya my lovely wife Imazahra Fatimah πŸ˜‰

Thahuurun insya Allah.” πŸ™‚


***

Facebook, tanggal 28 April, 7:38 AM.

“Sejak siang hingga sore, kamar pasien penuh hingga kami kebagian waiting list ke sekian belas. Si Ima menunggu dengan sabar di ruang IGD sambil kuajak bercanda kesana kemari.


Kesabarannya pun lekas berbuah. Menjelang sore, kami dapat kamar 1B untuk 2 orang pasien.


Tak hanya itu, buah lainnya pun tiba. Dalam satu kamar yang kami tempati tersebut, ternyata cuma diisi ama Imazahra Fatimah dan si penunggu :D, sejak Magrib kemarin hingga pagi ini.


Akhirnya, muncullah gambar ini.” πŸ˜€



Foto di atas juga saya posting di quick note ini! πŸ˜€

***

Facebook, tanggal 3 Mei, 2012, pukul 8:15 PM

[Operasi]

“Alhamdulillah, proses operasi penghancuran dan pengangkatan batu ginjal dapat dilalui dengan baik. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Tiada kemudahan kecuali jika Allah memberi kemudahan. Dan Hanya Allah yang kuasa mengubah segala susah menjadi mudah.

Hanya ucap syukur yang dapat saya dendangkan, puja puji pada Allah yang mampu saya panjatkan, dan rasa haru tak terhingga atas kelancaran operasi ini.


Kepada keluarga, teman, sahabat, dan saudara-saudari yang telah ikhlas mengulur cinta dengan berjuta kebaikan dan doa-doanya, saya ingin menghaturkan jazakumullah khairan katsira (Semoga Allah membalas kebaikan saudara-saudari sekalian dengan balasan kebaikan dari-Nya yang maha melimpah), amin…

Sekarang, Ima sedang terbaring lemas untuk recovery dan belum boleh banyak bergerak. Tinggal menunggu pulih.

Love you, Imazahra Fatimah.” *big hugs*


***

Disusul dengan postingan foto-foto saya menjelang operasi dan setelah kembali siuman, nanti saya posting di album terpisah saja ya. Postingan Aa menurut saya ‘kocak dan penuh sayang’, hehehe, saya kepingin mengabadikannya di album foto Multiply saya.

Jurnal ini saya persembahkan khusus untuk Aa.
Terima kasih Aa, sudah sabar mendampingiku dalam suka dan duka.

I love you more!

~***~